Sep 18, 2009

Kartu Lebaran


Pagi ini, sengaja bangun pagi. Dengan semangat Lebaran, aku pergi ke kantor pos. Bukan untuk bayar rekening listrik atau kirim parcel atau yang lainnya. Tapi untuk mengirim kartu Lebaran. Yup, benar, kartu lebaran. Mungkin banyak yang berpikir, "What? Hare gene masih kirim kartu lebaran? Jadul banget"

Untuk yang masih dalam jangkauan, alias deket rumahnya, masih satu kota, lebih afdol jika kita datang langsung. Minta maaf sekalian makan ketupat sayur ^_^. Tapi untuk yang di luar kota atau mungkin di luar negeri?

Emang sih, zaman makin maju. Lebih praktis mengucapkan selamat idul fitri lewat email, kirim sms, atau yang lebih irit via Facebook. Tapi tau nggak, kalo seseorang pasti lebih suka dapet kartu lebaran yang "NYATA", bukan sekedar sms atau email atau ucapan status di Facebook. Dengan kartu lebaran, lebih terasa niat si pengirim, lebih terasa personal. How should i describe it? Hmmm...aku juga bingung. Pokoknya gitu deh. Lebih indah.

Lama juga nunggu di kantor pos. Busyet...antrinya panjang bener. Mugkin karena hari terakhir buka. Bagi beberapa orang, menunggu adalah hal yang membosankan. Tapi tidak bagiku. Sambil antri and nunggu giliran, inilah moment terbaikku buat merhatiin orang-orang sekitar. Yang pertama kuperhatikan pastilah baju yang mereka kenakan. Modelnya, warnanya, matching atau nggak, sesuai postur tubuh atau nggak, cocok atau nggak. Kebiasaan yang aneh memang. Yang kedua kuperhatiin, karakter wajah masing-masing orang. Dan mencoba menebak karakter berdasarkan wajah. Sadar sih, wajah nggak 100% pencerminan karakter seseorang. Tapi nggak ada yang ngelarang kan buat menebak karakter based on their face. Dan yang ketiga, mencoba menebak, what's on their mind. Berkhayal jadi seorang paranormal. Mungkin. Hehheee..... What a freak person. Daripada nunggu giliran sambil mainin blackberry. Ntar dikira dikira pamer gituh. (Sok-sok an punya blackberry euy)

Setelah menunggu lumayan lama, tiba dapat giliran juga. Sang teller memberitahukan biayanya. Wow...naek juga ongkos kirimnya. Kirain cuman tiket yang terjadi kenaikan harga. Kantor pos juga nggak mau kalah. It's ok, makasih pak Pos sebelumnya. Karena udah nganterin kartu lebaran selamat sampai tujuan.

Inti cerita dani kali ini apa ya? Entalah. Yang pasti, kartu lebaran nggak jadul atau norak kok. Keep sending kartu lebaran di hari nan Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin ya. ^_^

Aug 31, 2009

Dia hebat (menurutku...)


Hari ini sudah seminggu lebih kita menjalankan puasa wajib Ramadhan. Bagi kita yang sudah terbiasa menjalankannya dengan suasana kerja di dalam ruangan ber-AC, mungkin nggak terlalu masalah. Berbeda dengan mereka yang kurang beruntung, yang harus bekerja di bawah terik matahari. Pun yang bekerja dengan extra tenaga.

Pagi tadi, rutinitas harian dimulai lagi. Mungkin yang membuat sedikit perbedaan, rumah yang kutinggali sedang dilakukan renovasi. Maklum, banjir bulan Februaru lalu, mengharuskan rumahku untuk direnovasi. Ditinggikan lebih tepatnya, agar banjir tidak lagi menggenang di dalam rumah. Capek ngurasnya. ^_^

Dari kamar, sekilas kudengar percakapan ibuku dengan tukang dan kuli bangunan yang mengerjakan renovasi rumah.
Ibu : "Siyam mas?"
Tukang : "Inggih buk. Insya Allah."
Ibu : "Lha mas'e?"
(mungkin yang ibu maksud adalah kuli bangunan yang satu lagi)
Kuli : "Inggih buk."

Percakapan yang cukup singkat. Tapi coba deh bayangkan. Seorang kuli bangunan tetap berusaha puasa. Dia hanya menginginkan ridho Allah. Meskipun berat dan energi terkuras, tetap ia jalankan karena dia sadar puasa Ramadhan adalah kewajiban setiap muslim yang beriman.

Puasa tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Tetap beraktivitas seperti biasa tanpa mengurangi kekhusyukan puasa. Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu dapat membersihkan Rohani manusia.

Aug 22, 2009

Kolak Ramadhan


Hari ini puasa Ramadhan kali pertama di tahun 2009, 1430H. Semuanya lancar. Aman, terkendali dan kondusif. Tak ada emosi yang tersulut. Menu berbuka yang disediakan ibuk juga ajib banget. Poko'e mak nyus lah. Dan kolak juga nggak absen hari ini.

Tapi kenapa kolak selalu hadir dalam setiap menu berbuka puasa? Pernahkan terpikirkan? Dari hasil penelusuran mbah Gugel, ada satu yang menarik tentang sejarah si kolak ini.

http://ongrosyadi.wordpress.com/tag/kolak/

Nama Kolak pada hakikatnya berasal dari nama Khalik yang artinya Pencipta langit dan bumi Tuhan semesta alam Alloh SWT. Apa kaitannya kolak dan Khalik ? Ulama pada masa itu memang banyak menggunakan istilah-istilah yang mudah dimengeti dengan harapan ajaran Islam mudah dipahami oleh masyarakat.

Menggunakan kolak untuk media mendekatkan dengan sang Pencipta adalah sebuah perumpamaan. Untuk membuat kolak saat itu bahan yang digunakan adalah tela pendem alias ubi dan pisang kepok. Tela pendem ( ketela yang ditanam atau dikubur ) dan pisang kepok( pisang kapok ). Penjelasannya adalah kita harus mengubur dalam-dalam kesalahan yang kita perbuat dan kita harus tobat atau kapok dan tidak mengulangi perbuatan buruk tersebut alias tobat nasuha sehingga kita bisa mendekatkan diri kita kepada sang Khalik yang diumpamakan tela pendem dan pisang kapok yang dicampur dengan bahan-bahan lain sehingga menjadi kolak.

Hmm...ternyata ada makna dibalik kehadiran kolak pada bulan Ramadhan.



Aug 14, 2009

Lelaki itu ...

Hari itu, aktifitasku dimulai seperti biasa. Bangun pagi, siap-siap ke kantor. Rutinitas sehari-hari yang kadang-kadang membuatku bosan. Seperti biasa juga, ada customer datang silih berganti membawa barang-barang yang rusak untuk diganti dengan yang baru. Semuanya tampak biasa saja bagiku.


Siang itu, seorang customer datang dengan Hard disknya yang rusak. Karena masih dalam garansi penggantian. Segera saja aku bergegas ke gudang untuk mengambilkannya hard disk yang baru. Ketika sampai di koridor menuju gudang, ternyata lagi ada pengiriman barang. Berpuluh-puluh kardus memenuhi koridor, yang merupakan satu-satunya akses menuju gudang. Karena tak bisa melewatinya, akhirnya kuputuskan untuk menundanya sebentar, dan aku meminta customer itu untuk bersabar sementara waktu.


Beberapa saat aku kembali lagi, dan kulihat salah satu kuli angkutnya sudah beruban. Perasaan kasihan bercampur dengan salut. Kulitnya yang hitam mulai menampakkan keriput disana-sini. Rambutnya hampir seluruhnya telah berubah warna. Nafasnya memburu, keringatnya bercucuran, peluh membasahi kaos coklat yang ia kenakan. Sejenak dalam hati aku berpikir, dia yang sudah tua masih saja membanting tulang. Bukankah seharusnya, dia yang sudah senja, diam dirumah dan menikmati masa tuanya. Bermain bersama cucu-cucunya.


Tapi pasti ada ribuan alasan kenapa dia masih bekerja di hari tuanya. Tapi aku salut banget dengan bapak tua itu. Masih bersemangat. Saat itu, aku malu dengan diriku sendiri. Aku masih muda, masih banyak impian yang ingin kuraih, tapi terkadang aku malas. Malas ke kantor, malas berangkat kuliah. Padahal yang harus kulakukan tidak seberat pekerjaan bapak itu. Malu pada diri sendiri.


Lalu aku juga teringat dengan seorang pemuda yang kulihat di perempatan jalan minggu lalu. Berperawakan agak gemuk, dan kutaksir kira-kira 26 tahun usianya. Tak ada sedikitpun perasaan iba ketika dia menyodorkan sterofoam bekas pop mi kearahku. Sambil memberikan isyarat menolak dengan tangan kananku, aku berlalu karena memang traffic light sudah menyala hijau. Badannya masih segar meskipun kulitnya terbakar matahari. Masih dalam usia produktif, seharusnya dia tidak menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang alias pengemis. Masih banyak pekerjaan yang bisa dia dapatkan dengan postur tubuh seperti itu. Entah menjadi kuli panggul di pasar, tukang parkir, tukang ojek atau pekerjaan apapun yang penting halal dan bukan pengemis.



Sangat kontras dengan semangat bapak tua kuli angkut tadi. Sebagai manusia, kita harus tetap semangat dan tetap bekerja keras. Jangan biarkan usia mengalahkan kita.


Keep on fighting…!!!

Aug 9, 2009

Nggak ada yang lain lagi?

Bosen menatap butir-butir pil itu. Sudah berapa puluh butir pil harus kutelan selama dua minggu ini. Tapi aku ingin sembuh. Aku ingin kembali beraktifitas seperti dulu. Semoga Allah memberikan kesehatan.

Jul 7, 2009

Stop Complaining!

Hari ini terasa begitu berat, customer datang silih berganti. Sampai jam makan siangpun terpotong hanya demi melayani pelanggan. Sempat dalam hati berpikir, Ya Allah, berat sekali hari ini. Sounds pesimis banget.

Sore hari baru sempet buka YM. Baru bisa sedikit bernapas lega. And gw chat ma temen kampus.
Fajar : Kemaren kamu nggak masuk dan?
Danie : capek banget gw. Ampe musti kerokan neh.
Fajar : wah, oleh2 dari baron kemaren ya?
(note : hari minggu kemaren emang jalan ke Baron, restoran Seafood, setelah nonton Tansformer)
Danie : iya kali. capek kerja juga. jadi pengen resign trus istirahat.
tapi kontrak gw masih lama, masih 10 bulan lagi.
Fajar : santai aja. kita udah hidup selama 26 tahun aja terasa singkat kok.

Glekk... bener juga. Gw langsung dapat pencerahan. Iya juga ya. 25 tahun sudah gw hidup. Udah 25 kalender gw abisin. Tapi terasa begitu singkat hidup ini. Kadang sempet berpikir, apa yang udah gw capai selama 25 tahun ini?

Hidup ini indah. Dan hidup emang harus dinikmati. Karena setiap detik yang terlewati tidak akan pernah kembali lagi. Manfaatkan setiap detik untuk sesuatu yang berguna. And STOP COMPLAINING about your life.

Jun 12, 2009

Untuk kawan

Tak ada yang abadi di dunia ini

Selamat jalan kawan
Semoga engkau mendapat tempat terbaik disisi Allah


Untuk Deni Tisna Amijaya
(SD Sendangguwo 01 Semarang - SMU 2 Semarang)

Jun 8, 2009

Lombok Idjo

Ni acara udah lama banget. Tapi baru di post hari ini.

Gw and temen-temen kampus pengen makan-makan bareng ajah. Abis ujian Semester, sambil refreshing gitu deh. Akhirnya diputuskan Lombok Idjo sebagai tujuan kita. Letaknya di Jalan Gajahmada Semarang. Tempatnya lumayan asyik.


Kita cuman berenam. Me , Edwin, Sabar, Sofie, Mb Yenny dan Mb Fajar. Triana katanya nyusul gitu ma cowoknya. Boma nggak jadi ikutan, cos mendadak mesti ke Tegal. Kita berangkat bareng dari kampus, bawa motor sendiri-sendiri.



Sampai disana... Gila... Penuh banget. Nggak ada meja kosong. Tau gitu, buat reservasi dulu. Kita disuruh nunggu dulu sampai ada meja yang kosong. Dapat antrian nomor tiga pula. Ini mau makan atau mau ngantri berobat ya? Sabar...sabar... Nggak lama sih nunggunya.




Setelah dapet meja dan kursi, mulailah kita pesen. Tapi sayang, banyak menu yang nggak ada. Akhirnya semua cuman pesen ayam goreng dan sambal idjo, yang jadi ikon restoran ini. Sayur asem juga boleh tuh. Minumnya gw pilih jus semangka, yang lain pesen jus melon dan jeruk. Gw juga pesen kerupuk. Kerupuk, ngga boleh ketinggalan dalam menu gw. Harganya terjangkau. Tapi rasanya STANDAR banget. Ayam goreng cuma Rp 7.000, trus aneka jusnya dihargai Rp 5.000, nasi putih Rp 2.000. Nah ini yang lain dari restoran manapun. Sambal n lalapan ngga satu paket ma ayamnya, tapi ada harganya sendiri Rp 1.500. Nggak cuma sambale ijo aja yang tersedia, masih banyak pilihan sambal lain.





Yang penting kebersamaan kelas KAS08.2 Stekom.

Suharno II?

Uhh...sapa sih yang sms pagi-pagi? Berisik. Masih pagi neh. Harusnya kan gw bangun siang, secara ni hari Minggu gitu loh. Agak malas juga buka sms. Dengan mengumpulkan segenap nyawa, gw baca sms. Ternyata ada temen ngajak makan ke jimbaran. Dan dia udah sampai depan rumah. Uh...harusnya belum bangun nih, What!!! Kok nggak bilang-bilang dari kemaren. Hmm...Oke deh, gw siap-siap, cuci muka, gosok gigi, samber roti di meja makan trus cabut deh. Ssttt, nggak pake mandi loh. Nggak sempet sih. ^_^ No problemo yang penting wangi. And gw nggak sempet bawa my baby, which is my pocket camera. Nggak bawa duit. pula. Bodo amat, gw kan ditraktir.

Kita semua janjian di Pom bensin Banyumanik. Gw juga nggak tau siapa aja yang ikutan. Gw cuman di ajak temen. Tadi berangkat buru-buru, tenyata disana nunggunya lama banget. Bete. Males. Masih ngantuk. Tau gitu, gw mandi dulu tadi. Jam sepuluh baru berangkat.

Perjalanan Semarang – jimbaran biasa aja.

Sampai di sana, rombongan terpisah jadi dua. Sang ketua sibuk nelponin bala tentaranya. Entah lewat mana orang-orang itu. Nggak lama kemudian, bersatulah seluruh awak kru. Dan langsung serbuuuu…. Eit, tapi parkir motor yang rapi dulu.

Masuklah semuanya ke dalam restoran lesehan itu. Sang ketua memilih menu makan siang kita. Nasi putih, gurami bakar dan lalapan. Sayang nggak ada kerupuknya. Tapi ga papa, asyik juga kok. Nunggunya nggak terlalu lama sih. Sambil nunggu pesanan, ada bapak-bapak nawari sendal. Terjadilah tawar-menawar yang sengit, macam perang aja. Tapi sayang... nggak ada yang jadi beli. Katanya sih lebih murah di Simpang Lima. Belum rezeki bapak itu kali.

Begitu pesanan datang, langsung kita makan siang. Emang udah waktunya sih.

Hmmm… yummy… Sikaattttttt…….

Kenyang nih.

Leyeh-leyeh dulu sebelum pulang. yang muslim, pada sholat, yang lagi males ya cuman duduk-duduk. Yang lain, malah pada saweran buat ngundang pengamen. Lumayan juga tuh pengamen. Satu lagu Rp 2.000. Dan rombongan gw request 7 lagu. Seru juga. Kalo boleh dibilang, agak norak sih. Tapi gw suka ma temen-temen baru ini. Tau nggak lagu yang mereka request? Wali cari jodoh, menunggu-nya Ridho Roma, Sahara, pokoknya lagu-lagu gitu deh. Yang lain gw nggak tau lagunya. Gw kan suka Linkin Park and nggak gitu familiar dengan lagu dangdut. Meskipun dangdut is the music of my country. ^_^

Sesuatu yang gw lupain dari seluruh rangkaian acara ini. Gw nggak tau nama restorannya. Asal masuk sih, nggak liat kanan kiri. Ha...ha...ha... tapi pas pulang, baru gw tau kalo namanya SUHARNO II. Entah kenapa dinamain Suharno II. Emang sih ada Suharno I dan Suharno III, letaknya deketan gitu. Mungkin ada 3 orang dengan nama Suharno, dan mereka udah gambreng buat nentuin urutan Suharnonya. Nggak tau jg. Gw cuman ngarang.

Bisalah dijadiin rekomendasi. Harganya juga lumayan murah. Rp 35.000/kg gurame, its big enough, nasi Rp 6.000/bakul, bisalah untuk bertiga kalo makannya standar. Kalo luar biasa, satu bakul juga bakal kurang. Lalapannya berapa ya? Gw lupa tuh.


Sampai rumah? Tidurrrr lagi...... Zzzz...zzz..zzz...zzz



Note : nggak ada pic gw :'( My baby ketinggalan.