Showing posts with label tragedi. Show all posts
Showing posts with label tragedi. Show all posts

Aug 14, 2014

Menghilangkan Kutu Rambut Tanpa Malu

Beberapa hari yang lalu ada rekan kerja bercerita kalau temannya maen ke kamar kosnya dan tiduran. Bukan tiduran yang dipermasalahkan, tapi temannya itu kutuan. Weleh (dengan gaya Bang Jarwo) hari ini kok kutuan.
 
Saya jadi terimgat tragedi kutu rambut bertahun-tahun lalu. Waktu itu saya masih merantau di suatu kota nun jauh disana. Suatu senja menjelang malam, saya shock. Bulu kuduk merinding. Berasa dunia hancur berkeping-keping. Antara percaya nggak percaya. Saya menemukan sesosok binatang mungil nan imut di antara jemari sisir malam itu. What??? Saya kutuan? Oh noooooooooo...
 
Iya, saya lebay.
 
Dengan panik saya menelpon (mungkin sms, saya lupa) teman. “Vi, tulung tumbaske au**n.” Suara jauh dari seberang telepon membalas “Au**n nggo opo?” Mungkin dia terheran-heran, karena di rumah kami tidak ada nyamuk. Yang ini beneran, tidak ada nyamuk. Langsung kutimpali dengan “Suk tak critani, pokoke tumbaske.”
 
Ketika a**an sudah ada di tangan, tengah malam saya beraksi. Au**n saya oleskan merata ke seluruh rambut. Kemudian saya tutup kepala dan rambut dengan handuk. Saya biarkan hingga pagi tiba. Keramas. Bersih. Bebas kutu. Merdeka!!!
 
Kenapa nggak beli obat kutu rambut, misalkan pedi**x? Hehehe...harusnya gitu. Alasan sih cuma satu. Malu. Masak iya, saya yang masih muda cantik nan menggemaskan harus membeli obat kutu rambut. Apa kata mbak-mbak penjualnya nanti. Kalau beli au**n kan wajar dan normal, nyamuk dimana-mana. Nah, obat kutu rambut? Ya gitu deh.
 
Beberapa hari kemudian, saya baru tahu kalau salah satu teman serumah emang kutuan. Pantas saja saya kutuan. Hadeh... Untung si kutu belum sempat beranak pinak. Jadi buat kamu-kamu yang punya kutu tapi malu beli obat kutu, beli saja au**n atau sof**l. Sampai sekarang sih nggak ada efek samping kok.
 
 
Gambar  saya pinjam dari sini.

Mar 30, 2011

Dying, Terpapar Radisi Ketek

Seorang pria masuk ke ruangan kerjaku. Konsultan pajak. Begitu dia memasuki ruangan, seketika itu juga ruangan menjadi tercemar. Radiasi bau ketek menyebar tak terkendali. Aroma tajam menyelimuti ruangan. Awan berubah menjadi hitam, pekat, menakutkan. Guntur dan kilat saling menyambar. Suasana berubah, seketika menjadi tegang. #tiga kalimat yang terakhir rada berlebihan sih.

May day...may day... Anyone, Please help me!!!!!! I need to be evacuated soon. Hopeless, tetapi tetap berdoa.

Ke toilet, padahal nggak pengen pipis atau pup. Ke ruangan sebelah, NGUNGSI. Balik ke ruangan lagi, dan dia masih disana, tak bergeming. Ke ruang sebelah lagi. Pokoknya sebisa mungkin menghindari berada dalam satu ruangan dengannya. "Ah... hari yang indah". :(

Gila, tu ketek bau banget. Baunya membuatku gila. Baunya bisa membunuhku perlahan. Slowly but sure, I was gonna die. Ketika dia berlalu meninggalkan ruangan, ada perasaan lega, senang, gembira, bahagia dan terharu. Siksaan itu berakhir. Tunggu!!! Tetapi ruangan masih terkontaminasi. Hadehhhh (-_-") Perlu beberapa menit untuk menetralkan bau ruangan.

Thanks God, udah menyelamatkanku hari ini. Seperti ikan kecil yang kembali diceburkan ke kolam jernih setelah terkapar kekurangan oksigen. Tapi masih agak nggliyeng, sempoyongan.

Lagi-lagi masih ada orang yang nggak sadar kalau keteknya tu bau. Mungkin dia merasa kalau keteknya wangi, sewangi parfum made in Italia. Baca yang ini juga deh. Deodoran sekarang udah murah kan? Seratus ribu aja udah dapet berapa biji tu? #sigh


---

cek ketek dulu ah. :D masih wangi :D

Dec 4, 2010

Mbak...Pake Deodoran Duong

Pusing, mual, pengen muntah masih berasa hingga malam ini. Efek keracunan itu ternyata belum sepenuhnya hilang. Bukan keracunan makanan atau minuman, tapi keracunan bau ketek. Gila...bau banget tuh ketek.

Ceritanya hari ini menghadiri training UMKM di Unnes. Semua diawali dengan biasa saja. Enggak ada yang spesial.

Tragedi dimulai ketika dua orang perempuan menempati bangku kosong di deretan depanku. Ketika mereka berjalan mendekat, enggak ada perasaan aneh ataupun bad feeling sebelumnya. Tetapi pas mereka duduk, tiba-tiba udara menjadi tercemar. Yup, bau ketek salah satu perempuan itu sungguh membuatku menderita. Dua jam penuh aku berjuang untuk bertahan hidup. Mau pindah, kok ya bangkunya penuh. Ya Allah, ampuni dan bantulah hambaMu ini.

Masalah bau badan enggak bisa dianggap enteng dan sepele. Bau badan bisa memicu perpecahan dan peperangan karena mengganggu stabilitas dan keamanan nasional. Emm... nggak gitu juga kali. Tetapi yang pasti bau badan mengganggu kenyamanan orang-orang sekitarnya. Entah kenapa, beberapa orang tu nggak sadar kalo bau keteknya bikin eneg. Dan teman-teman sekitar merasa sungkan untuk kasih saran dan masukan, berpura-pura semua baik-baik saja meski dalam hati mengumpat. Anjr*t...ketek loe bau banget!!!!

Kembali ke mbak-mbak yang tadi. Emang sih dalam Islam, wanita nggak diperbolehkan memakai parfum dan wewangian jika keluar rumah. Namun hal ini nggak boleh dijadikan alasan buat seorang wanita muslimah untuk tampil dengan bau badan tidak sedap. Banyak cara bisa dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan bau badan. Cara yang paling efektif dengan memakai deodoran selain harus tetap menjaga kebersihan tubuh dengan mandi dua kali sehari. Banyak varian yang ditawarkan produk deodoran, tinggal pilih aja yang sesuai dengan kepribadian dan kondisi masing-masing.

Kalau nggak mau pakai deodoran atau bedak ketek, masih banyak kok cara lain. Misalnya dengan minum jamu atau obat herbal. Mau bikin sendiri atau instan, lagi-lagi tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Daun sirih, kemangi, beluntas, udah terkenal bisa mengurangi efek tidak sedap bau badan. Cukur juga tuh bulu keteknya. Karena bakteri suka berkembang biak di tempat lembab seperti bulu ketek yang berkeringat. Hindari juga makanan yang memicu bau badan seperti bawang merah, putih, bombay. Bawang nggak hanya bikin bau mulut, tetapi juga memberi kontribusi pada bau badan juga.

Yang bikin aku heran, ni orang kan mahasiswa. Harusnya tu punya pengetahuan dan wawasan yang luas. Google juga udah sediain berjuta-juta tips ngilangin bau badan, dari yang gratis, murah, sampai yang mahal seperti botox dan operasi. Mbok sekali-sekali browsing to mbak mbak. Kasian kan yang ada di sekelilingnya. Harus menjadi "munafik" untuk tetap berada di sampingmu.

Sayang kan kalau ada yang bilang, ayu-ayu kok mambu to mbak...

Dan sebagai sahabat, seharusnya juga kasih saran jika emang peduli dan sayang. Enggak cuma biarin seorang sahabat terjebak dengan bau badan yang enggak dia sadari.

---
Jangan lupa pakai deodoran setelah mandi dan sebelum keluar rumah. Pakai parfum juga ya. Pokoknya jaga kebersihan tubuh deh.

Nov 23, 2010

What a Bad Day

Pagi hari sih seperti biasa berangkat kerja pukul setengah sembilan. Dari rumah emang udah ada niat mampir bentar ke Kantor Pos buat bayar pajak. Setelah antri, hla kok sistem pajak error. Hufth…. Ya sudahlah.

Sampai kantor, seperti biasa cek email dulu. Trus langsung cabut ke Kantor Pajak buat bayar dan sekalian lapor. Antri panjang bener, padahal udah tanggal tua. Pas udah tiba giliran hla kok di tolak. Katanya harus carbonized. SSP tu kan rangkap 4, nah yang belakangnya nggak boleh di print satu-satu. Harus pake karbon. Kan aku nggak tau, biasanya bayar di kantor pos juga oke-oke wae. 

Nggak mungkin nunggu besok, soalnya ini minggu terakhirku di kantor. Semua dokumen harus udah beres. Di sebelah kantor pajak kan ada Bank BRI, kucoba ah, mana tau bisa bayar di situ. Oalah, ternyata hanya bisa di kantor BRI pusat dan di BRI Kas. Kantor BRI pusat? Yang di Jalan Patimura itu? Jauh amirrr….. Dan dikasih taulah BRI Kas Karang rejo (belakang PLN). Kata petugas bank itu bisa. Meluncurlah diriku di tempat itu. And guess what??? Nggak bisa juga, disarankan ke BRI Pusat. Hmm…tidak terima kasih. Kalau ada mobil kantor mending, lha ini bawa motor sendiri ogh. Panasssssssss dan jauh!!!

Eh…maju dikit kan ada kantor pos to. Coba ah, mudah-mudahan nggak error lagi. Nah, pas keluar dari parkiran BRI, high heelnya bikin ulah, dan terjatuhlah aku bersama sastroku tersayang. Sastro enggak lecet kok. Masih mulus. Sedangkan aku, lumayan, terkilir dikit di kaki kanan. Dan yang pasti malu sama security-nya.  Kok bisa sih jatuh, wong nggak ada yang nabrak.

*Lempar high heel ke siapa aja. Benciiiiih

Dengan kaki masih berasa sakit, paksain deh ke kantor pos, jaraknya cuman 100 meteran. Sampai di kantor pos, tetap berdoa dan harap-harap cemas. Semoga bisa ya Allah. Dan…Alhamdulillah lancar, nggak trouble lagi. Bayar udah selesai, dan saatnya kembali ke kantor pajak buat lapor. Antrinya sih cuma nungguin satu orang, tapi kok ya lamaaaaaaaaa banget.

Actually, it’s not really a bad day. Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari ini. Dan aku masih hidup sampai detik ini. Terimakasih ya Allah buat semua anugerah dan cobaan yang Engkau berikan. Semoga danie selalu bersyukur dan tabah.

 

Nov 16, 2010

High Heel vs Coro

Sebenarnya aku teramat sangat tidak menyukai high heel. Sungguh tersiksa jika harus memakainya. Tapi ini konsekuensi hidup yang harus kujalani. Hufthhh....Seandainya high heel tidak pernah ditemukan dalam dunia fashion.

Dulu pertama kali pakai high heel, jalane wagu. Nggak enak diliat deh. Sumpah, kayak terpaksa gitu. Tapi setelah genap seminggu, semuanya jadi aman terkendali meskipun kaki sempat keseleo pas lagi belajar. Untuk jadi cantik emang butuh perjuangan dan pengorbanan. 

Sekarang aku berdamai dengan high heel. Sedikit.

High heel itu berjasa. Berhasil menumpas kecoa yang nyasar di ruangan kantor. Dengan jurus maut, kulibas si kecoa nakal itu dengan high heel. Sebenarnya aku nggak terlalu jijik dengan kecoa. Nggak teriak-teriak histeris kalo liat. Tapi kok bawaannya pengen nimpuk gitu. Mukanya itu loh, enggak banget. Tapi engak sejelek laba-laba, tarantula, dan keluarganya.

Semoga high heel itu berjasa lagi di kemudian hari.

Dec 6, 2009

Tragedi Sendal Jepit


Hari ini, dani dan teman-teman ke Kopeng.

Awalnya ke Kopeng nyari apaan ya? Kalo cuman mo foto-foto narsis dengan suasana pepohonan, kenapa harus jauh-jauh kesana? Di depan rumah dani pun, masih banyak pepohonan rindang. Tapi karena paksaan dari berbagai pihak, ikutlah dani ke Kopeng.

Seperti biasa, kemana-mana selalu pakai sendal jepit. Xixixi...I love sendal jepit. Dan tragedi itu terjadi. :((

Dalam waktu kurang dari dua bulan, empat sendal jepitku sudah putus. Ckckck...

1. Waktu itu ceritanya lagi ke salon. Cie...tumben dani ke salon. Tiga jam berlalu dan dengan muka bersinar keluar dari salon. Pulang. Pas berhenti di lampu merah, Bussetttt, putus sendal jepitku. Sebelah kiri. Untung udah mo nyampai rumah dan lagi ngendarai motor, jadi nggak terlalu kena efeknya.

2. Nah, kalo kali ini pas acara ke pantai Ujung Negoro dan Sigandu. Lagi-lagi waktu nunggu semuanya kumpul, tragedi itu terulang lagi. Sendal kiri putus. Alhasil, terpakailah sendal Gambas. Karena sendal Kang Slam terlalu longgar di kaki dani. Makasih udah minjemin sendal.

3. Sabtu sore, rencana ganti kampas rem di rumah sang kekasih. Weleh-weleh, bahasanya. Kampas rem telah diganti, saatnya makan. Karena emang nggak jauh, kita berdua jalan kaki. Sepulang dari warung soto favoritku, tragedi itu terulang lagi. Sialnya! Yang sebelah kiri lagi. Hix..hix..hix... Padahal sendal jepit itu baru dipake dua kali. Malangnya diriku.

4. Hari ini trip ke Kopeng, saat nungguin Widhi n Gambas yang salah jalur n misah dari rombongan, tragedi itupun terjadi. Dan sendal jepit itupun PUTUS. Yang kiri LAGI. Dan Sang Widhi yang baik hati itupun merelakan sendal cadangannya untuk kupakai. Thanks and makasih ya. (Hmm..kapan balikinnya ya? Ntar aja deh)

Kenapa harus yang kiri sih?

Note: ilustrasi gambar di peroleh dari alidabdul.wordpress.com